Legenda Fokker yang Lahir di Blitar dan Berjaya di Eropa
Legenda Fokker yang Lahir di Blitar dan Berjaya di Eropa
Terobsesi kepada pesawat sejak kecil, namanya menjelma sebuah merek dirgantara yang legendaris. Red Baron adalah legenda berbahaya Jerman dalam Perang Dunia I di Eropa. Pesawat bersayap tiga lapis yang diterbangkan oleh Ritmeester Manfred Albrecht Freiherr von Richthofen ini memakan banyak korban. Dalam sejarah Perang Dunia I, Red Baron benar-benar menjadi pesawat yang menebar kehancuran bagi musuh-musuh Jerman.
Menurut catatan Pamella Dell dalam A World War I Timeline (2014), Richtofen menyatakan telah menjatuhkan 80 pesawat terbang musuh. Pesawat-pesawat yang dipakai Richtofen dan pilot-pilot tempur Jerman yang dipimpinnya adalah bikinan orang Belanda bernama Anthony Herman Gerard Fokker. Namanya sangat terkenal dalam sejarah kedirgantaraan dunia. Fokker punya cerita tersendiri tentang Indonesia. Ia lahir di Jawa, persisnya di Blitar, pada 6 April 1890.
Namun hanya sampai umur empat tahun dia berada di Hindia Belanda. Ayahnya, Herman Fokker, yang merupakan penggede perkebunan kopi di Jawa Timur, mengirimnya ke Eropa untuk bersekolah. Tentu saja ia masih terlalu kecil saat berangkat ke Eropa. Dia tak mengenal tanah kelahirannya, Nusantara, yang kala itu disebut Hindia Belanda, yang membuat ayahnya cukup makmur untuk bisa menyekolahkannya di negeri leluhurnya. Fokker muda sejak kecil sudah terobsesi pesawat.
Pada usia yang masih terhitung muda, 20 tahun, ia sudah merancang pesawat pertamanya yaitu De Spin (laba-laba). Dirancang sejak 1910, pesawat itu ia terbangkan di sekitar Sint Bavokerk Haarlem pada 31 Agustus 1911, saat ulang tahun Ratu Wilhelmina. Baca juga: Sejarah Hidup Wilhelmina, Ratu Belanda yang Tak Rela RI Merdeka Dalam buku A Biographical Encyclopedia of Scientists and Inventors in American (2011) karya A. Bowdoin Van Riper, dia dikirim untuk belajar teknik otomotif di Jerman.
Pada 1912, dia membangun perusahaan penerbangan dan sekolah penerbangannya di Jerman. Dengan cepat Fokker mendapatkan kontrak dari militer Jerman untuk pesawat pemandu dan pelatihan pilot. Pesawat buatannya pada 1915 adalah Fokker E-1, pesawat satu kursi dan senapan mesin yang sudah sinkron dengan gerak baling-baling depannya ketika menembak.
Menurut A. Bowdoin Van Riper, pesawat ini begitu efektif ditangan Max Immelman Ace (pilot pembantai pesawat musuh) dan mendapatkan reputasi mengerikan dari musuh-musuhnya. Di era-era pesawat baru yang dikembangkan Wilbur Wright, pesawat kebanyakan hanya mampu mengangkut dua penumpang. Pesawat bukan transportasi massal. Hanya untuk hobi atau militer. Masa penerbangan komersil belum datang saat itu. Jadi, Angkatan Udara Jerman adalah konsumen penting pertama dalam bisnis Fokker.
“Fokker membangun reputasinya selama Perang Dunia I sebagai pembuat pesawat untuk Angkatan Udara Jerman, termasuk pesawat bersayap tiga lapis Manfred 'Red Baron' von Richthofen,” tulis Henry M.
Holden dalam Teterboro Airport (2010). Pesawat bertipe Dr I ini adalah pesawat yang sering diingat dalam sejarah pertempuran udara. Namun, sebagai produsen pesawat di awal sejarah pesawat terbang, tentu saja banyak kelemahan dari produknya. Dia pun disarankan untuk merger dengan Junker.
Setelah gugurnya Manfred van Richthofen si Red Baron pada 21 April 1918 di Perancis dan kalahnya Jerman dalam Perang Dunia I, Anthony Fokker lalu kehilangan konsumen pentingnya, militer Jerman. Perusahaannya dia pindahkan ke Belanda dan berpisah dengan Junker. Dengan satu rangkaian kereta api, pesawat-pesawat Fokker dipindahkan ke Belanda.
Pada 21 Juli 1919, dengan bendera N.V. Koninklijke Nederlandse Vlietuigenfabriek Fokker, perusahaan pesawatnya bangkit lagi. Baca juga: Kisah Engelbert: Petualangan dan Tewas Terbakar Kecelakaan Pesawat Negaranya, Belanda, bukan jago perang yang memperhatikan Angkatan Udara





Comments
Post a Comment